Perjumpaan Asa


Kamis, 2 Desember 2021 saya tertegun melihat pengumuman bahwa makalah saya terpilih mengikuti seminar dan lokakarya di LP2KS Solo. Senang dan kemudian berhitung berapa banyak teman dari Bandung dan Jawa Barat. Tentang teman saya tidak peduli lagi, karena sepertinya kegiatan lembaga penyedia dan penjamin Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah menjadi pestanya KS dan Pengawas Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur.

Mayoritas undangan berasal dari 3 daerah itu. Saya pun tidak lagi bertanya, hanya menyiapkan hal yang perlu disiapkan untuk perjalanan. Pertanyaan tentang mengapa Jawa Barat jarang hadir dikegiatan nasional saya simpan dalam catatan.

Perjalanan pun dimulai, Kereta api Argo Wilis berangkat membelah kearah timur. Selepas rancaekek pemandangan disuguhkan landscape pegunungan. Gambaran tatar pasundan yang diisi masyarakat sunda pegunungan terlihat mulai dari nagrek. Awal tahun 1800 an Belanda menyebut orang Sunda sebagai orang pegunungan. Dalam pembendaharaan administrasi Belanda, orang Sunda pada awalnya disebut orang Jawa pegunungan.

Alam tatar sunda terutama parahyangan plus sukabumi, cianjur, dan bogor merupakan daerah pegunungan. Ada yang menarik dari kondisi pegunungan dan sikap perilaku masyarakatnya. Gunung mampu menghadirkan seluruh kebutuhan manusia penghuninya. Dengan curah hujan yang tinggi di daerah Jawa Barat, maka akan sangat mudah ditemukan sungai dan anak anaknya.

Tumbuhan, ubi ubian, buah buahan, dan binatang buruan termasuk ikan mudah didapat ditanah pasundan. Masyarakat Sunda jaman dahulu dengan dukungan sumber daya alam tidak harus susah payah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kemudahan orang sunda memenuhi kebutuhan hidup menurut para ahli sosiologi melahirkan perilaku masyarakat santai dan tidak menyukai kompetisi.

Kalimat tentang masyarakat tidak suka kompetisi ini mengingatkan kembali, mengapa dari Jawa Barat yang mengikuti pesta LP2KS ini sangat sedikit. Orang Jawa Barat bukan tidak hebat, namun sepertinya tidak suka kompetisi.

Kelokan kereta dijalan tatar pasundan terus berjalan, setelah statiun Cipeundeuy Garut kelokan dan jalan diperbukitan masih dijalani. Banjar sepertinya akhir indahnya kelokan perbukitan di tanah pasundan. Jalan kereta pun lurus dan hampir tanpa belokan berarti, perjalanan dan suara mesin lokomotif akhirnya mengantarkan dalam istirahat sekejap…

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published.